Postingan

Bunga Telang, HIDUP SELARAS : DIRI, ALAM, DAN TUHAN

Gambar
Gambar 1. Bunga Telang (Andari, 2021). Di sudut kebun yang kerap diabaikan, bunga telang tumbuh dengan cara yang sederhana. Kelopaknya memiliki warna biru keunguan, damai namun kaya makna, seolah menyimpan pesan yang tidak tergesa untuk diungkapkan. Ia tidak mencolok, tidak meminta sanjungan, namun kehadirannya memberikan makna bagi alam dan manusia.  Alam, tidak hanya sebagai tempat tinggal manusia, tetapi sebuah kitab penuh tanda. Telang salah satu ayatNYA. Tumbuh sesuai hukum alam, mendapatkan sinar secukupnya, menyerap air seperlunya, dan mekar pada waktu yang tepat. Alam mengajarkan keseimbangan. Telang tidak memaksakan dirinya menjadi bunga lain. Tidak merasa iri pada bunga merah yang dipuja, anggrek yang dipamerkan. Cukup menjadi diri sendiri. Sebuah pelajaran sunyi dan tenang tentang menerima dan keteraturan semesta. Manusia sering kali tidak tenang, ingin segala sesuatu cepat, tinggi, diakui. Dalam kegelisahan, seringkali melupakan esensi manusia bukan tentang pencapaian m...

Menyapa Diri, Merawat Hati: Kecerdasan Emosional sebagai Jalan Kembali ke Rumah Jiwa

Gambar
PENGANTAR      Di tengah kesibukan sehari-hari, manusia kerap terperangkap dalam kebiasaan dan tekanan hidup yang tiada henti. Fokus pada menyelesaikan tugas, memenuhi harapan orang lain, dan mengejar berbagai prestasi. Namun, di tengah semua itu, satu hal yang sering terabaikan adalah diri kita sendiri. Sering kali lupa untuk sejenak bertanya, “Bagaimana sebenarnya perasaanku hari ini?” atau “Apakah aku benar-benar puas dengan keputusan yang kuambil?” Inilah mengapa kecerdasan emosional sangat penting. Kecerdasan emosional bukan sekadar kemampuan mengelola kemarahan atau mempertahankan hubungan sosial yang harmonis. Akan tetapi, kecerdasan emosional merupakan kemampuan untuk menyadari apa yang kita rasakan, mengidentifikasi arti di balik emosi itu, dan mengolahnya dengan tepat.   B anyak manusia menjalani hidup tanpa benar-benar memahami diri.  Mengetahui nama, latar belakang, pekerjaan, serta impian. Namun kerap tidak menyadari lapisan terdalam dalam diri...

Tuhan Tidak Pernah Jauh: Kecerdasan Spiritual dan Seni Mendekat

Gambar
          Ada kala dalam hidup ketika jiwa terasa sepi, meskipun dunia di sekitar hiruk-pikuk.  Melewati hari demi hari, bergelut dengan kebiasaan, memenuhi tuntutan, mengejar pencapaian. Tetapi ada ruang hening di dalam diri yang tetap kosong. Di situlah kita mulai bertanya, bukan kepada orang lain, tetapi kepada diri sendiri: "Apa sebenarnya yang aku inginkan?"       Beberapa orang menyebutnya krisis arti, sementara yang lain menyebutnya suara hati. Namun para pencari mengatakannya sebagai tanda, petunjuk bahwa jiwa kita sedang diajak untuk kembali. Bukan kembali secara fisik, melainkan kembali secara spiritual, menuju asal segala ketenangan:Tuhan.       Bukan tentang hafalan atau ritual, namun tentang kesadaran. Kesadaran akan adanya Ilahi dalam setiap hembusan napas, dalam setiap peristiwa, bahkan dalam ketidaktenangan yang paling hening. Kecerdasan spiritual merupakan kemampuan untuk merasakan sesuatu yang t...

Rasa yang Mengantar Jiwa: Jejak Tuhan dalam Makanan Leluhur Nusantara

Gambar
  Pernahkah kita benar-benar hadir saat makan? Pernahkah kita merasakan kehadiran Tuhan dalam suapan sederhana dari makanan kita? Kita semakin tidak akrab dengan makanan warisan leluhur kita. Generasi muda lebih ingat nama makanan cepat saji dari luar negeri dibandingkan mengenal tempe mendoan, pecel, atau bubur sumsum. Gula rafinasi menggantikan manisnya gula dari kelapa. Minyak sawit menggantikan minyak kelapa murni. Tepung terigu yang diimpor mendominasi, sementara sorgum, sagu, dan umbi-umbian sumber pangan lokal terabaikan. Ini bukan sekadar perubahan selera ini merupakan bentuk penjajahan gaya yang baru, yang menggerogoti kemandirian pangan dan identitas budaya kita.  Ironisnya, tanah Nusantara yang kaya, yang dulunya adalah pusat rempah dunia, kini lebih banyak memproduksi barang ekspor daripada makanan lokal untuk warganya sendiri. Petani kita terabaikan dalam sistem yang tidak merata. Warisan leluhur dalam bertani, mengolah, dan menghargai makanan, tergantikan oleh ke...

Ketika Tumpeng Bicara tentang Syukur dan Siapa Kita

Gambar
       Tumpeng bukan hanya makanan tradisional. Ia adalah simbol hidup. Dalam setiap susunan nasi, lauk – pauk yang mengelilinginya, bentuk yang menjulang. Tersimpan pesan leluhur tentang syukur, keselarasan, dan kesadaran diri manusia.      Suku Jawa adalah salah satu suku etnis paling besar yang terdapat di Indonesia. Dalam suku Jawa, makanan tradisional sangat terkait dengan ritual masyarakat Jawa yang masih dilakukan hingga saat ini. Salah satu hidangan tradisional masyarakat Jawa yang masih sering ditemukan di acara adat suku Jawa adalah tumpeng (Ababil et al, 2021).      Kata Tumpeng berasal dari sebuah kalimat jawa yaitu “ yen meTU kudu meMPENG ”, arti dari kalimat tersebut adalah “ketika keluar harus sungguh-sungguh semangat” dimana dapat ditarik suatu makna yaitu ketika manusia terlahir ke dunia maka mereka harus menjalani kehidupan di jalan Tuhan dengan semangat, yakin, fokus dan tidak mudah putus asa (Ed-dally dalam Ababil et ...